BIOGRAFI TOKOH
Mimpi yang Tak Diimpikan
Menjadi seorang yang istimewa sungguhlah sangat
didambakan oleh setiap insan manusia. Tidak lagi kesedihan meliputi kehidupan,
tidak lagi kehampaan hati, semua terisi dan terasa penuh perhatian dikalau
menjadi seorang yang istimewa. Begitu pula dengan wanita ini, dunianya berubah
kala ia menjadi seorang yang didambakan oleh setiap orang, ialah Puji Rahayu,
atau yang kerap dipanggil Dayu.
Puji Rahayu atau yang biasa dipanggil Dayu ini
dilahirkan di Serang Banten pada tanggal 10 November 1972. Anak ketiga dari
pasangan Hj. M. Tachdi dan Eti Suhaeti ini memiliki dua orang kakak perempuan
dan satu adik perempuan. Kakak pertamanya bernama Erna Liswaty dan kakak
keduanya adalah Nining Wahyuningsih. Sedangkan adiknya bernama Liza Linda Wati.
Mereka semua sudah berkeluarga dan menetap di Serang Banten.
Dayu telah memiliki suami asal Jogjakarta bernama
Hanan Sureksa. Mereka dianugerahi 4 orang anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan.
Anak pertama bernama Raffly Brianta Dehan yang telah bekerja kedinasan
pelabuhan di Banyuwangi, Jawa Timur. Anak kedua bernama Adia Tyas Pundentyana
yang sedang melanjutkan sekolahnya diperguruan tinggi Bhayangkara Jakarta. Anak
ketiganya bernama Ayesha Putri Amelia yang masih menuntut ilmu di jenjang
menengah atas di SMA favorit di daerah Bekasi. Dan yang terakhir adalah Azril
Mahardhika Wijaya bersekolah di sekolah menengah pertama di Bekasi.
Wanita yang pernah bersekolah di Sekolah Dasar
Negeri Bhayangkari 01 ini sangatlah pandai dalam semua permainan olahraga.
Mulai dari lari, basket, dan juga voli. Namun beliau sangatlah mahir dalam
permainan bola voli. Pada saat beliau duduk di kelas 4, ia sudah mulai aktif memainkan
voli untuk tingkat sekolah dasar. Menginjak sekolah menengah pertama, Dayu yang
bersekolah di SMPN 04 Serang mulai memperlihatkan keeksistensiannya di bidang
voli ini. Ia mulai bermain ditingkat kampung lingkungan rumahnya, Asem Gede. Ia
juga berharap suatu saat nanti ia dapat menjadi bagian penting dari tim inti
suatu organisasi pervolian Indonesia. Dan pada akhirnya, ia diperkenalkan oleh
seorang rekan voli yang berumur jauh lebih tua dibanding umur beliau waktu itu,
Lili, namun Dayu biasa memanggilnya Bi Lili. Ia biasa bermain di pemda bersama
Bi Lili dan rekan-rekan yang lain. Beliau mulai terbiasa dengan lingkungan dan
rekan-rekan volinya. Ia juga tidak merasa canggung kala harus bertanding dengan
lawan yang lebih tua darinya demi memenuhi hasrat memainkan permainan voli.
Pada memasuki kelas 2 SMP, disinilah kejayaan
seorang Dayu sebagai pemain voli profesional melambung. Seorang siswi SMP yang
sangat gila dalam bermain voli mampu menjadi sosok yang diagungkan seantero
sekolah dan juga lingkungan Asem Gede, hingga akhirnya ia masuk dalam tim
ASISGA atau Asem Gede Siap Siaga. Tim ini adalah tim yang khusus diperuntukkan
orang-orang yang selalu siap jika ada panggilan untuk bertanding voli antar
kampung. Melalui ASISGA itulah, Dayu direkrut oleh teman dari Bi Lili, yaitu
Ibu Momon, humas PERWOSI atau Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia untuk
menjadi tim inti dari PERWOSI.
Banyak teman dan kerabat yang tidak suka dengan
terpilihnya Dayu sebagai tim inti dari PERWOSI. Mereka hanya mengatakan bahwa
Dayu belum pantas masuk organisasi tersebut karena ia masih duduk dibangu SMP.
Apalagi sampai masuk kedalam tim inti. Namun, Bi Lili mengajak teman-teman yang
mencemooh Dayu ke acara turnamen dimana Dayu menampilkan performa terbaiknya.
Dan akhirnya, teman-teman pun sadar mengapa Ibu Momon memilih Dayu sebagai Tim
Inti dari PERWOSI.
Cerita lucu pernah terjadi saat ia sedang bertanding
didaerah Pandeglang dalam acara Kambing Cup disana. Saat itu, tim klub Dayu
memenangkan juara pertama dalam Kambing Cup itu. Suasana gembira tentu saja meliputi
seluruh pemain tim klub Dayu. Siang terik itu, tiba-tiba seorang laki-laki yang
sudah cukup tua datang menghampiri Dayu. Sebut saja namanya Haji Dullah, ia
datang dan kemudian berkata bahwa ia ingin menjadikan Dayu seorang istri. Tidak
tanggung-tanggung, Haji Dullah ingin menjadikannya istri kelima. Seketika Dayu
langsung berlari kearah orangtuanya dan tidak mau bertemu dengan Haji Dullah itu.
Secara lembut Pak Tachdi menolak pinangan secara mengejutkan itu kepada Haji
Dullah dengan berlapang hati, Haji Dullah pun merelakan pujaan hatinya tidak
dapat menerima pinangannya.
Selain aktif dibidang voli, beliau juga aktif
menjadi penyiar radio di RRI Sturada Serang. Berkat kenalannya dengan
rekan-rekan dari pemda, Dayu mulai mencoba menjajaki bidang barunya itu. Semua
berawal dari dibawanya Dayu ke studio RRI Sturada oleh Bi Lili, dan mulailah
perkenalan dimulai. Ia mulai berkenalan dengan beragam karakter didalam
keluarga Bi Lili. Keponakan dan juga Pak Abdul Aziz selaku pimpinan RRI Sturada
pada masa itu. Waktu itu juga banyak teman-teman dari Dayu yang mengetahui
bahwa ia dibawa ke studio RRI Sturada dan banyak dari teman-teman yang
menitipkan kertas request-an lagu ke
radio tersebut. Selama berminggu-minggu, kertas request-an itu lupa diberikan ke penyiar hingga akhirnya bertumpuk
padanya. Pada saat itulah, ia ditawarkan sebagai penyiar tamu yang bertugas
sebagai pembaca request lagu. Berawal
dari penyiar tamu, jadilah Dayu sebagai
penyiar tetap. Ia tidak menggunakan nama asli, ia menggunakan nama panggilan
‘Puji Lembayung’ dalam setiap siaran radio. Dayu juga menerima bayaran
perminggunya yaitu lima belas ribu dalam tiga kali pertemuan dalam seminggu.
Seiring waktu berlalu, tamatlah Dayu dari sekolah
menengah pertamanya dan melanjutkan di SMEA 01 Serang. Ia pun mulai memancarkan
aura ketenarannya. Ia pun masuk kedalam organisasi OSIS seksi olahraga. Tak
sedikit waktu beliau diminta mewakili sekolah untuk mengikuti pertandingan voli
diberbagai sekolah. Mulai dari tingkat kelurahan, hingga tingkat daerah Serang.
Pada jenjang inilah, Dayu menemukan seorang pria yang
mampu membagi perhatiannya dengan bermain voli yang sekarang menjadi suaminya.
Setelah lulus SMEA, Dayu memutuskan untuk menikah dengan Hanan Sureksa.
Sebenarnya, cita-cita Dayu bukanlah menjadi
atlet Voli, ia dulu bercita-cita ingin menjadi seorang perawat. Namun
cita-citanya itu terhalang karena ia menikah muda pada saat itu. Setelah
menikah pun, Dayu mulai mengurangi segala aktifitasnya dibidang voli. Sampai
pada akhirnya ia benar-benar vakum dari dunia pervolian.
![]() |
![]() |
| Hanan Sureksa |
![]() |
| jaman nikah hehe |
![]() |
| jaman SMP |
![]() |
| gaya nih ^_^ |
![]() |
| jaman nikah nih yee hihi |






No comments:
Post a Comment